Minggu, 25 Februari 2018

Lebaran ke Ujung Genteng (Episode 3)

Posted by with No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. 


Baca Episode 1 dan Episode 2 nya dulu.

Episode 3 : See You Again Ujung Genteng

Hari ke 3 - 1 Juli 2017 :

Hari ini adalah hari terakhir geng jomblo ini liburan di Ujung Genteng. Kami bangun pagi-pagi dan packing barang-barang, untuk sarapan kami memilih untuk masak indomie goreng (backpacker abis menunya).


Perjalanan Pulang

Pak Adang datang menjemput pukul 7 lewat dikit. Beliau yang akan mengantarkan kami ke dari penginapan sampai ke Surade. Tapi ditengah jalan tiba-tiba angkot Pak Adang keluar asap, angkotnya ngambek kali kami ajak jalan-jalan, mungkin dia sudah lelah. Akhirnya setelah 5 menit mengecek keadaan angkotnya akhirnya Pak Adang memutuskan untuk memberhentikan angkot lewat dan minta tolong agar mengantarkan kami sampai ke Surade (makasih banyak ya Pak Adang, sehat terus dan banyak rejeki.^_^)
Angkot Pak Adang

Sesampainya di surade gw pergi ke minimarket terdekat, karena belajar dari pengalaman waktu berangkat maka gw beli antimo. Mencegah lebih baik dari pada mabok lagi.

Elf pulang masih lebih bagus dari elf waktu berangkat kemarin. Gw pun membagikan antimo agar masing-masing orang minum satu. Dan kali ini gw, Mba Lele, dan Desi duduk di depan (kami kapok dangdutan di belakang). Entah karena antimo, atau kursi di depan, atau elf yang lebih bagus, alhamdulillah perjalanan kami aman tentram nyaman, kami ketiduran sepanjang jalan.

Sesampainya di Terminal Lembur Situ kami memutuskan untuk makan nasi terlebih dahulu. Kami makan di salah satu warteg, tapi namanya sembarang milih tempat makan yah rasanya gak recommend. Setelah itu kami melanjutkan naik angkot sampai ke Sukabumi.

Satu hal yang berbeda dari perjalanan pulang kemarin, Sukabumi - Bogor kali ini kami gak naik kereta, tapi naik elf lagi. Kenapa?? karena kami kehabisan tiket. Waktu itu Mas Andi cuma beli tiket berangkat karena tiket pulangnya sudah habis. Perjalanan dari Sukabumi ke Bogor sejujurnya gak begitu gw inget. Mungkin karena antimo yang masih ada pengaruhnya di gw, jadi gw lagi-lagi tidur sepanjang jalan. Satu hal yang gw inget adalah : jalanannya agak macet.

Elf itu berhenti dekat terminal Baranang Siang. Setelah turun tadinya kami berpikir untuk beli oleh-oleh mungkin makanan atau apa, tapi entah kenapa gak ada tempat yang menarik hati kami. Akhirnya yang kami lakukan adalah jalanan kaki dari Terminal Baranang Siang sampai ke Stasiun Bogor. Kami sempat mampir di Taman Sempur sebentar untuk istirahat, banyak jajanan disana.
Dan Duduklah di Pinggir Jalan

Singkat cerita kami sampai di Stasiun Bogor dengan berjalan kaki. Kami naik kereta tujuan Jatinegara dan turun di Manggarai kemudian pulang ke rumah masing-masing. Dan akhirnya petualangan 3 hari kami selesai sampai disana. Alhamdulillah..


Pengeluaran Ujung Genteng (3D2N)

Sesuai janji, berikut adalah detail pengeluaran kami selama di Ujung Genteng :

Penginapan : 1,500,000
KRL (Manggarai - Bogor) : 25,000
Kereta (Bogor - Sukabumi) : 80,000
Konsumsi (Total 3D2N) : 619,200
Angkot (Sukabumi - Terminal Lembur Situ) : 20,000
Elf (Lembur Situ - Surade) : 250,000
Angkot (Surade - Ujung Genteng) : 100,000
Angkot (Pantai Ujung Genteng - Penginapan) : 50,000
Charter Angkot : 550,000
Curug Cikaso (Tiket Masuk & Parkir) : 30,000
Curug Cigangsa (Tiket Masuk & Parkir) : 20,000
Villa Amanda Ratu (Tiket Masuk & Parkir) : 15,000
Elf (Surade - Lembur Situ) : 250,000
Angkot (Lembur Situ - Sukabumi) : 20,000
Elf (Sukabumi - Bogor) : 175,000
KRL (Bogor - Manggarai) : 25,000
                                                      Total : 3,729,200
                                                      Per Orang : 745,840

Jadi setelah di tung-itung-itang-itung, total pengeluaran kami per-orang adalah Rp 750,000. Sebenernya kalau kami pergi bukan pas musim libur mungkin bisa lebih murah. Tapi gapapa, yang penting liburan kali ini berhasil.

See you again next time..

Lebaran ke Ujung Genteng (Episode 2)

Posted by with No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. 


Baca episode 1 nya disini.

Episode 2 : Explore Ujung Genteng

Hari ke 2 - 30 Juni 2017 :


1. Pantai Ujung Genteng

Sebelum memulai petualangan dengan angkot Pak Adang, pada malam harinya sebelum tidur kami sepakat untuk menyaksikan sunrise di pagi harinya. Berdasarkan penelusuran si Pak Ketua (Mas Andi yang punya ide untuk ke ujung genteng), Pantai Cibuaya itu gak terlalu keliatan sunrise nya, jadi kami mencari pantai yang lebih bagus view nya. Ada warga yang bilang kalau kami bisa ke tempat pelelangan ikan. Dan dengan sotoynya kami mencari tempat tersebut.

Kami bangun pagi-pagi sekali waktu masih gelap (abis solat subuh langsung caw), empat kepala (Mas Andi, Mas Chan, Desi, dan Gw) karena Mba Lele merasa lelah dan masih mau nambah istirahat. Ketika keluar penginapan pantai cibuaya ada di sebelah kanan, maka kami berjalan ke arah yang berlawanan. Berbekal ke sotoy-an dan Google Maps yang signalnya ilang-ilangan, kami mencari tempat tujuan kami dengan jalan kaki.

Sepuluh menit pertama kami masih menemukan rumah-rumah penginapan di kanan dan kiri, lima menit berikutnya jalanan mulai gelap dan nggak kelihatan apa-apa. Kami harus menyalakan aplikasi senter yang ada di handphone kami untuk melihat jalan. Jalanan di depan kami mulai jelek dan berlubang-lubang, "Ini kita yakin gak nyasar?". Dan lima menit berikutnya kami sudah ada di jalan raya dan langit sudah mulai terang.

Wokeh, jadi kita harus kemana? Masih penasaran atau balik ke penginapan? Kalau kami balik ke penginapan, kami gak dapat apa-apa cuma pegal doang. Masih nekat dan kami ikutin Mas Andi jalan ke arah kanan, terserah ujungnya dimana. Sekitar lebih dari lima menit kemudian kami sampai di sebuah tanah kosong yang cukup luas dengan banyak tumbuhan ilalang yang tinggi. Tapi ajaibnya kami mendengar suara ombak.. rasanya kayak orang lagi dehidrasi di padang pasir terus ketemu aqua botol.

Kami berlari menuju suara ombak tadi dan benar saja kami sampai disebuah pantai yang tidak terlalu ramai dengan pasir putih dan tidak ada sampah. Jalan kaki tanpa tahu arah selama 30 menit terbayar sudah.
Pantai Ujung Genteng

Setelah pulang dari Pantai Ujung Genteng, kami bersiap-siap, sarapan, kemudian naik ke angkot Pad Adang. Seperti yang sudah gw ceritakan di postingan sebelumnya (disini), kami menyewa angkot Pak Adang sampai esok hari kami akan pulang. Berbekal pengetahuan Pak Adang yang memang orang situ, kami duduk manis sampai ke tempat tujuan.


2. Curug Cikaso

Tujuan pertama adalah Curug Cikaso, Curug Cikasi adalah merupakan salah satu air terjun yang terletak di selatan Kabupaten Sukaumi. Air terjun ini juga dikenal sebagai Curug Luhur, namun nama Curug Cikaso lebih dikenal masyarakat sekitar dikarenakan aliran airnya berasal aliran airnya berasal dari anak Sungai Cikaso yaitu Sungai Cicurug (sumber : wikipedia)

Untuk menuju area air terjun kami bisa menempuh dua jalur yaitu naik getek dan jalan kaki. Karena masih tujuan pertama kami tidak keberatan untuk jalan kaki menuju air terjun. Kami melewati pematang sawah dan sedikit area mendaki, kurang dari 10 menit kami sudah sampai di dekat air terjun.
Curug Cikaso

Lagi-lagi karena sedang musim liburan, tempat tersebut sangat ramai pengunjung. Ini merupakan salah satu berkah untuk penjual disana, tapi sayangnya gw menemukan sedikit area dengan tumpukan sampah. Selain itu di tempat tersebut ada tanda larangan berenang, tetapi gw menemukan beberapa orang yang bandel dan tetap nyemplung, sangat disayangkan.

Terlepas dari itu, disana banyak tempat untuk beristirahat dengan beberapa warung dan penjual minuman seperti es kelapa. Setelah sesi foto-foto selesai, kami memilih untuk menikmati keramaian sambil minum es kelapa.

Tiket Masuk : 15.000 (6 orang & 1 mobil)
Parkir : 15.000


3. Curug Cigangsa

Kebetulan hari itu adalah hari Jumat. Kami sudah tiba di lokasi Curug Cigangsa sebelum azan jumat, penduduk setempat memberikan info bahwa khusu hari Jumat area curug baru dibuka setelah solat Jumat. Maka kami memutuskan untuk menunggu solat Jumat selesai (Mas Chan dan Pak Adang pergi solat Jumat di mesjid dekat situ. Mas Andi, Mba Lele, Desi, dan Gw menunggu di warung).

Setelah solat Jumat dan solat Dzuhur, kami melanjutkan perjalanan. Yang tidak kami ketahui (atau mungkin cuma gw yang gak tahu) ternyata kami harus menuruni anak tangga yang cukup banyak untuk dapat sampai ke area air terjun. Perjalanan turun menuju curug selow gak ada hambatan, perjalanan naik?? Jangan tanya.. Lumayan buat olahraga.
Curug Cigangsa dari Atas

Judulnya sama-sama curug, kenyataanya memang gak terlalu beda antara Curug Cikaso dan Curug Cigangsa, sama-sama air terjun. Tapi Curug Cigangsa lebih sepi dan lebih bersih. Entah karena waktu kami sampai disana memang bukan jamnya wisatawan datang atau memang selalu sepi seperti itu?Dan seperti biasa, sesi foto-foto pun dimulai.
Curug Cigangsa

Tiket Masuk & Parkir : 20.000


4. Villa Amanda Ratu

Konon katanya, di daerah ujung genteng ada satu tempat yang keindahannya mirip dengan Tanah Lot di Bali. Namanya adalah Villa Amanda Ratu. Hal ini membuat kami penasaran dan menjadikannya salah satu tujuan yang ingin kami sambangi. Dari jalan raya menuju ke dalam villa cukup jauh, untungnya ada angkot Pak Adang jadi kami tidak perlu jalan kaki.
Villa Amanda Ratu

Dan seperti inilah penampakan pantai di Villa Amanda Ratu. Kita bisa berjalan lebih dekat ke arah laut dengan melewati anak tangga yang ada disana tapi jika kalian turun sampai ke ujung, kalian tidak akan menemukan pasir pantai karena yang ada adalah pinggiran tebing. Saran gw, jangan terlalu lama ada di sana karena anginnya kenceng banget, bisa bikin masuk angin. Dan kalau ditanya mirip atau enggak sama Tanah Lot, bisa dibilang agak mirip tapi enggak begitu mirip juga.

Tiket Masuk : 15.000 (6 orang & 1 mobil)


5. Pantai Pangumbahan (Penangkaran Penyu)

Destinasi terakhir kami di hari itu adalah Pantai Pangumbahan. Kami sampai ke Pantai Pangumbahan kira-kira pukul 4 sore. Kami solat terlebih dahulu di musholla dekat situ (saran gw, buat yang muslim sebaiknya bawa perlengkapan solat sendiri karena disana mukenanya cuma sedikit).

Jalan masuk ke area pantai adalah tempat penangkaran penyu hijau. Kami melewati kandang kecil kemudian beberapa pohon (yang gw lupa itu pohon apa, yang jelas pohonnya tinggi). FYI, Desi dan Mas Andi excited banget mau kesini (menurut gw) mereka bilang pantainya bagus banget. Dan itu cukup bikin gw penasaran. Karena sebelum keluar dari area pepohonan, suara ombak yang sangat kencang terdengar di kuping gw. Dan ketika gw sampai di sumber suara, benar saja, tempat itu indah banget.
Kandang Penyu ? (di Samping Pintu Masuk)

Pasir disana bersih dan hangat, air nya jernih dan suara ombaknya merdu banget walaupun bikin kaget. Gak salah teman-teman lain seneng banget disini. Tempat ini tuh kayak penyejuk dimata gw (caelah..). Mas Chan mulai sesi foto-fotonya, Mba Lele, Gw, dan Desi sibuk gak jelas, dan Mas Andi memandang jauh ke arah laut (semacam kayak lagi syuting FTV). Gw melihat ke sekililing ada cukup banyak orang disana, bahkan ada pasangan yang sedang foto pre-wed.

Tidak lama kemudian acara pelepasan penyu pun di mulai. Penyu-nya kecil-kecil banget imut segede jempol gw. Penyu-penyu tersebut di sebar di pinggir pantai dan mereka berjuang menuju air. Sayangnya gak ada satupun foto yang bisa gw abadikan terkait momen ini. Karena balik lagi ke faktor musim liburan, jadi pengunjungnya banyak banget dan mereka mengerubungi penyu-penyu tersebut. Adik-adik penyu tersebut seketika jadi artis cilik.
Sunset di Pantai Pangumbahan

Sebelum pulang tidak lupa kami mengabadikan moment sunset di pantai tersebut.

to be continue..