Selasa, 10 Juli 2018

Rentang Kisah by Gita Savitri (Book Review)

Posted by with No comments
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.. 

Beberapa hari sebelum lebaran kemarin, gw menyempatkan diri untuk mampir ke salah satu tempat favorite gw yaitu toko buku. Seperti biasa, I have no idea what book that I want to buy. Dan seperti biasa lagi, gw muterin itu toko buku dari ujung ke ujung. Di salah satu deretan buku karangan William Shakespeare, ada buku Rentang Kisah ini.

Sumber : gagasmedia

Judul:Rentang Kisah
Oleh:Gita Savitri Devi
Penerbit:Gagasmedia
Tanggal Terbit:September 2017
ISBN:978-979-780-903-4
Halaman:216 hlmn
Lebar x Panjang:13 cm x 19 cm
Harga:RP 65,000
Beli di:Toko Buku Gramedia
Rating:3.89 (468 rating Goodreads)

Gw baca sinopsis belakangnya dan berpikir: oke, buku ini agak berat. gak ada lucu-lucunya. Gw adalah salah satu subscribernya Gita Savitri di Youtube. Cuma subscriber baru, tapi gw udah menonton beberapa videonya apalagi video-video "Beropini" nya dan gw mengambil kesimpulan kalo dia adalah orang yang berpikir kritis. Jadi wajar kalau bukunya aja se-serius itu.

Gw mencari ada dimana tumpukan buku ini, karena buku ini hanya ada satu di rak yang tadi. Akhirnya gw minta tolong ke petugas toko bukunya. Setelah melihat database buku, ternyata stoknya tinggal 8. Kalo bukunya tinggal dikit berarti laku, bisa jadi bukunya bagus, pikir gw. Akhirnya gw minta diambilin sama mbaknya dan gw belilah buku tersebut.

Seperti judulnya "Rentang Kisah", buku ini isinya ya kisahnya si Gita Savitri ini. Bagaimana dia berproses dari anak remaja keras kepala menjadi orang dewasa yang mungkin masih keras kepala. Sebagian besar buku berlatar di Jerman tempat dia menjalankan kuliah S1 nya. Dia menceritakan bagaimana proses dia bisa memutuskan untuk kuliah di Jerman, usahanya untuk masuk kuliah di sana, dan cerita kesehariannya disana.

Ada pula kisah bagaimana dia mendapatkan hidayah disana. Dia bukan mualaf, she is born as a Muslim. Tapi lahir sebagai muslim tidak serta merta membuat dia menjadi seorang muslimah yang sempurna. Yang menarik adalah kisah bagaimana dia belajar lebih banyak tentang agama yang dia bawa sejak lahir itu, menjadi muslimah yang lebih baik, bahkan bisa sampai mendukung orang terdekatnya menjadi seorang mualaf. Hal ini mengingatkan gw akan nasehat seorang Ustad, "Untuk menguatkan iman kita, gak ada salahnya membaca atau mendengar kisah hijrah seseorang." Dan cerita Gita Savitri akhirnya masuk ke dalam salah satu list gw.

"Banyak yang bilang, dunia adalah tempat manusia berlomba-lomba. Perlombaan apa yang sedang kita ikuti"

- Gita Savitri Devi, Rentang Kisah, 2017

So, is it worth to buy? I would say yes.. Buku ini inspiratif, iya. Buku ini bagus, iya. Tapi untuk kalian yang lebih suka cerita fiksi, mungkin bisa lihat-lihat ke rak yang lain dulu. Tapi kalau beli buku ini, gw rasa kalian gak akan menyesal.

Mau beli? Boleh dibaca dulu nih sinopsisnya.. 😉


OVERVIEW

Apa tujuan hidupmu?
Kalau itu ditanyakan kepadaku saat remaja, aku pasti nggak bisa
menjawabnya. Jangankan tujuan hidup, cara belajar yang benar saja aku nggak tahu. Setiap hari aku ke sekolah lebih suka bertemu teman-teman dan bermain kartu. Aku nggak tahu apa yang menjadi passion-ku. Aku sekadar menjalani apa yang ibu pilihkan untukku—termasuk melanjutkan kuliah di Jerman.

Tentu bukan keputusan mudah untuk hidup mandiri di negara baru. Selama 7 tahun tinggal di Jerman, banyak kendala aku alami; bahasa Jerman yang belum fasih membuat proses perkuliahan menjadi berat, hingga uang yang pas-pasan membuatku harus mengatur waktu antara kuliah dan kerja sambilan.

Semua proses yang sulit itu telah mengubahku; jadi mengenal diri sendiri, mengenal agamaku, dan memahami untuk apa aku ada di dunia. Buatku, kini hidup tak lagi sama, bukan hanya tentang aku, aku, dan aku. Tapi juga, tentang orangtua, orang lain, dan yang paling penting mensyukuri semua hal yang sudah Tuhan berikan.

The purpose to live a happy life is to always be grateful and don’t forget the magic word: ikhlas, ikhlas, ikhlas.


0 comments:

Posting Komentar